Perempuan mendapat anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat mengandung, melahirkan dan menyusui. Kodrat yang diberikan kepada perempuan ini ditandai oleh perangkat reproduksi yang dimilikinya, yakni rahim dan semua bagiannya, untuk tempat tumbuh kembang janin selama di dalam kandungan, dan payudara untuk dapat menyusui anak ketika ia sudah dilahirkan. Artinya semua perempuan berpotensi untuk menyusui anaknya, sama dengan potensinya untuk dapat mengandung dan melahirkan (Perinasia, 2010).
UndangUndang Undang Dasar 1945 Pasal 28B ayat 2 menyebutkan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu menurut Undang Undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 128 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu Ekslusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Dalam ayat 2 pasal ini juga menyebutkan bahwa selama pemberian Air Susu Ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus (Permeneg Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak Republik Indonesia No 03 Tahun 2010).
Di Indonesia dukungan pemerintah terhadap pemberian ASI ekslusif telah dilakukan berbagai upaya seperti Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI), Gerakan Masyarakat Peduli ASI dan Kebijakan Peningkatan Pengguaan Air Susu Ibu (PP-ASI). Tetapi dalam kenyataannya hanya 4 % bayi yang mendapat ASI pada 1 jam pertama kelahirannya dan 8 % bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif. Padahal sejak tahun 2000 pemerintah menargetkan pencapaian pemberian ASI ekslusif sebanyak 80 % (Roesli, 2007).
Menyusui memberi anak awal terbaik dalam hidupnya. Diperkirakan lebih dari satu juta anak meninggal tiap tahun akibat diare, penyakit saluran napas dan infeksi lainnya karena mereka tidak disusui secara memadai. Ada lebih banyak lagi anak yang menderita penyakit yang tidak perlu diderita jika mereka disusui. Menyusui juga membantu melindungi kesehatan ibu (Perinasia, 2007).
Air susu ibu bisa mencerdaskan dan meningkatkan kualitas generasi muda bangsa, setiap bayi yang diberi ASI akan mempunyai kekebalan alami terhadap penyakit karena ASI banyak mengandung antibodi, zat kekebalan aktif yang akan melawan masuknya infeksi ke dalam tubuh bayi. Saat ini sekitar 40 % kematian balita terjadi pada satu bulan pertama kehidupan bayi, dengan pemberian ASI akan mengurangi 22 % kematian bayi dibawah 28 hari, dengan demikian kematian bayi dan balita dapat dicegah melalui pemberian ASI Eklslusif secara dini dari sejak bayi dilahirkan di awal kehidupannya (Roesli, 2007).
Tapi tidak semua ibu postpartum langsung mengeluarkan ASI karena pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon yang berpengaruh terhadap pengeluaran oksitosin. Pengeluaran hormon oksitosin selain dipengaruh oleh isapan bayi juga dipengaruhi oleh reseptor yang terletak pada sistem duktus, bila duktus melebar atau menjadi lunak maka secara reflektoris dikeluarkan oksitosin oleh hipofise yang berperan untuk memeras air susu dari alveoli (Soetjiningsih, 1997).
Pengertian Oksitosin Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh hipofisis posterior yang akan dilepas ke dalam pembuluh darah jika mendapatkan rangsangan yang tepat. Efek fisiologis dari oksitosin adalah merangsang kontraksi otot polos uterus baik pada proses saat persalinan maupun setelah persalinan sehingga yang akan mempercepat proses involusi uterus. Di samping itu oksitosin juga akan mempunyai efek pada payudara yaitu akan meningkatkan pemancaran ASI dari kelenjar mamae (left down reflek)
Pijat oksitosin adalah pemijatan tulang belakang pada costa ke 5-6 sampai ke scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis merangsang hipofise posterior untuk mengeluarkan oksitosin
Memberikan bayi ASI eksklusif dapat membawa banyak manfaat bagi bayi, tak hanya sekarang tapi juga untuk masa depannya. Hal ini karena banyak nutrisi penting yang diperlukan bayi yang hanya ada dalam ASI. Oleh karena itu, menyusui sangat penting dilakukan. Jika Anda merasa ASI yang keluar sedikit, ini bukan menjadi hambatan Anda untuk tetap memberikan bayi ASI. Banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk memperlancar ASI.
Pijat punggung atau juga dikenal dengan pijat oksitosin merupakan pijatan yang dilakukan di daerah sepanjang tulang belakang sebagai upaya untuk memperlancar pengeluaran ASI. Pijatan ini mampu memicu pengeluaran oksitosin, di mana oksitosin merupakan hormon yang diperlukan untuk mengeluarkan ASI. Sehingga, pijatan ini juga dikenal dengan nama pijat oksitosin.
Manfaat pijat oksitosin
Melakukan pijatan setelah melahirkan tentu membawa banyak dampak baik bagi tubuh Anda. Pemijatan dapat memberi Anda relaksasi, mengurangi stres, dan membantu tidur lebih baik. Untuk ibu yang melahirkan dengan cara operasi caesar, pemijatan juga dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih cepat.
Pijat punggung sendiri ternyata juga dapat membantu Anda dalam menyusui bayi. Terdapat dua manfaat penting yang bisa diberikan pijat punggung, yaitu:
1. Meningkatkan pengeluaran oksitosin dan prolaktin
Pijat punggung dapat membantu memperlancar produksi ASI dengan cara meningkatkan pengeluaran hormon yang mendukung produksi ASI, yaitu prolaktin dan oksitosin. Oksitosin dapat merangsang payudara untuk berkontraksi, sehingga ASI akan dilepaskan dengan lancar. Selain itu, pijatan juga dapat mengurangi pengeluaran hormon kortisol (hormon yang dikeluarkan saat tubuh stres), sehingga pengeluaran hormon prolaktin dan oksitosin tidak terganggu. Beberapa penelitian juga telah membuktikan manfaat pijat punggung terhadap kelancaran produksi ASI. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Medical Research and Review tahun 2013 membuktikan bahwa pijat punggung efektif dalam meningkatkan produksi ASI, sehingga ini direkomendasikan untuk semua ibu menyusui, terutama pada ibu yang mempunyai masalah dalam menyusui.
2. Meningkatkan let-down reflex
Tak hanya meningkatkan produksi hormon prolaktin dan oksitosin, pijat punggung juga ternyata dapat meningkatkan let-down reflex. Ini tentu membantu pengeluaran ASI sampai ke bayi. Hal ini diperkuat dengan beberapa penelitian yang telah membuktikannya.
Penelitian percobaan yang dilakukan pada 20 ibu menyusui yang dibagi ke dalam dua kelompok berbeda membuktikan bahwa pijat punggung dapat meningkatkan let-down reflex. Hal ini membuat bayi lebih puas setelah menyusu dan juga dapat membantu meningkatkan berat badan bayi.
Melakukan pijat punggung secara rutin juga dapat memengaruhi sistem saraf perifer, meningkatkan rangsangan dan komunikasi antar saraf, mengurangi nyeri, dan memperbaiki aliran darah ke jaringan dan organ tubuh.
Cara melakukan pijat oksitosin
Pijat oksitosin sangat mudah dilakukan. Anda bisa menggunakan minyak zaitun atau minyak lainnya agar pijatan mudah dilakukan. Tentunya, Anda membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan pijatan ini, misalnya suami Anda. Caranya, yaitu:
- Ibu berada dalam posisi duduk bersandar ke depan sambil memeluk bantal agar lebih nyaman. Taruh meja di depan Anda sebagai tempat untuk bersandar.
- Pijat kedua sisi tulang belakang menggunakan kepalan tangan dengan ibu jari menunjuk ke depan. Pijat kuat dengan gerakan melingkar.
- Pijat sisi tulang belakang ke arah bawah sampai sebatas dada, dari leher sampai ke tulang belikat. Lakukan pijatan ini selama 2-3 menit.
Pijatan atau petrisage adalah suatu gerakan pijatan dengan mempergunakan empat jari yang selalu lurus dan supel. Kesalahan pada umumnya tidak dapatnya jari-jari tersebut melurus.
metode pijat yang sering digunakan antara lain sebagai berikut
a. Mencubit
Teknik mencubit diterapkan hanya pada jari-jari tangan, kaki, atau kuku. Titik-titik tersebut merupakan tempat bermula dan berakhirnya meridian tubuh.
b. Menekan
Teknik penekanan dapat dilakukan dengan jari jempol, telunjuk, dan jari tengah yang disatukan. Dapat juga dilakukan dengan menggunakan kepalan tangan.
c. Memutar
Pada daerah pergelangan tangan atau kaki dapat diterapkan teknik memutar. Biasanya teknik ini juga digunakan pada tulang belakang. Tujuannya yaitu meregangkan dan merelaksasikan otot-otot yang tegang.
d. Mengetuk
Teknik mengetuk dilakukan dengan gerakan mengetukkan jari tengah, ibu jari, telunjuk, dan jari tengah ke titik-titik meridian organ. Lama pengetukan yaitu 2-3 detik sekali selama beberapa menit.
e. Menepuk
Teknik menepuk dilakukan dengan menepukkan telapak tangan yang terbuka sebanyak 5-10 kali pada titik-titik meridian. Gerakan ini beguna untuk mendorong aliran energi dan darah.
f. Menarik
Teknik menarik dilakukan dengan cara mengerut/memijat jari tengah atau kaki, lalu menarik jari-jari perlahan dengan jempol dan telunjuk
Pijat oksitosin memberikan banyak manfaat dalam proses menyusui, manfaat yang dilaporkan adalah selain mengurangi stress pada ibu nifas dan mengurangi nyeri pada tulang belakang juga dapat merangsang kerja hormon oksitosin, manfaat lain dari pijat oksitosin
a. Meningkatkan kenyamanan,
b. Meningkatkan gerak ASI kepayudara,
c. Menambah pengisian ASI kepayudara,
d. Memperlancar pengeluaran ASI,
e. Dan, mempercepat proses involusi uterus.
Langkah melakukan pijat oksitosin
- Memberitahukan kepada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan, tujuan maupun cara kejanya untuk menyiapkan kondisi psikologis ibu.
- Menyiapkan peralatan dan ibu dianjurkan membuka pakaian atas, agar dapat melakukan tindakan lebih efisien.
- Mengatur ibu dalam posisi duduk dengan kepala bersandarkan tangan yang dilipat ke depan dan meletakan tangan yang dilipat di meja yang ada didepannya, dengan posisi tersebut diharapkan bagian tulang belakang menjadi lebih mudah dilakukan pemijatan.
- Melakukan pemijatan dengan meletakan kedua ibu jari sisi kanan dan kiri dengan jarak satu jari tulang belakang, gerakan tersebut dapat merangsang keluarnya oksitosin yang dihasilkan oleh hipofisis posterior.
- Menarik kedua jari yang berada di costa 5-6 menyusuri tulang belakang dengan membentuk gerakan melingkar kecil dengan kedua ibu jarinya.
- Gerakan pemijatan dengan menyusuri garis tulang belakang ke atas kemudian kembali ke bawah.
- melakukan pemijitan selama 2-3 menit
Sumber :
Dayang, L. A.M dkk.(2006).ASI Titian Kasih.Kisah Haru para Ibu Saat Menyusui Si Permata Hati
Mardiyaningsih, E.at al, (2007), Efektifitas Kombinasi Teknik Marmet dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI, FIK Universitas Indonesia, Jakarta .
Guyton & Hall, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11, Penerbit Buku Kedokteran, EGC
LINKAGES,(2007), Melajirkan Memulai Pemberian ASI dan Tujuh Hari Pertama Setelah Melahirkan.HSP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar