Menurut Danuatmaja bahwa pemijatan perineum ini mengurangi robekan perineum, mengurangi episiotomi dan mengurangi penggunaan alat bantu persalinan lainnya.
Penelitian di Rumah Sakit Benin Teaching, Kota Benin, Nigeria, mengemukakan bahwa prevalensi ruptur perineum kurang lebih 46.6%, terlebih pada ibu primigravida 90% mengalami ruptur perineum Laserasi perineum merupakan penyebab perdarahan kedua setelah atonia uteri, hal ini sering terjadi pada primigravida karena pada primigravida perineum masih utuh, belum terlewati oleh kepala janin sehingga akan mudah terjadi robekan perineum. Jaringan perineum pada primigravida lebih padat dan lebih resisten dari pada multipara. Luka laserasi biasanya ringan tetapi dapat juga terjadi luka yang luas yang dapat menimbulkan perdarahan sehingga membahayakan jiwa ibu (Departemen Kesehatan RI, 2011).
Untuk meminimalkan kejadian laserasi perineum perlu dilakukan pencegahan, salah satunya dengan pemijatan perineum. Pemijatan perineum bertujuan untuk meningkatkan aliran darah, elastisitas dan relaksasi otot-otot dasar panggul dengan cara memijat perineum pada saat hamil usia kehamilan >34 minggu atau 1-6 minggu sebelum persalinan. Pemijatan perineum membantu menyiapkan mental ibu pada saat dilakukan pemeriksaan dalam dan mempersiapkan jaringan perineum menghadapi situasi saat proses persalinan terutama pada saat kepala bayi crowning supaya perineum lebih rileks. Teknik pemijatan perineum sangat aman dan tidak berbahaya, namun ibu hamil dengan infeksi herpes di daerah vagina, infeksi saluran kemih, infeksi jamur atau infeksi menular yang dapat menyebar dengan kontak langsung dan memperparah penyebab infeksi tidak dianjurkan untuk pemijatan perineum (Badriah & Dewi Laelatul, 2012).
Menurut penelitian Ommolbabin Zare et al (2014) menyatakan bahwa risiko terjadinya laserasi perineum pada kelompok dipijat lebih kecil dibandingkan dengan kelompok tidak dipijat perineum, artinya terdapat pengaruh pemijatan perineum terhadap kejadian laserasi perineum. Beckman et al (2013) menyatakan bahwa pemijatan perineum selama kehamilan dapat mengurangi kejadian trauma perineum. Penelitian Lesley A Smith et al (2013) menyatakan bahwa pemijatan perineum mempunyai risiko lebih kecil terhadap kejadian trauma perineum. Penelitian Fahami et al (2012) pengaruh teknik pemijatan perineum dapat mencegah komplikasi terjadinya laserasi perineum. Penelitian Jones, L.E et al (2008) menyatatakan bahwa pemijatan perineum dapat mencegah terjadinya laserasi perineum
Hal ini perlu dipikirkan terutama apabila Ibu sudah pernah mengalami episiotomi sebelumnya (dan merasakan tidak enaknya proses penyembuhan) atau ini adalah pengalaman melahirkan yang pertama kali.Meskipun episiotomi (menggunting perineum untuk melebarkan jalan keluar bayi) tidak lagi rutin dilakukan saat ini, namun alangkah baiknya apabila kita juga dapat mencegah kejadian episiotomi dan jahitan pada perineum di kala melahirkan pijat Perineum
Pijat Perinium dipikirkan terutama apabila Ibu sudah pernah mengalami episiotomi sebelumnya (dan merasakan tidak enaknya proses penyembuhan) atau ini adalah pengalaman melahirkan yang pertama kali.Meskipun episiotomi (menggunting perineum untuk melebarkan jalan keluar bayi) tidak lagi rutin dilakukan saat ini, namun alangkah baiknya apabila kita juga dapat mencegah kejadian episiotomi dan jahitan pada perineum di kala melahirkan.
Pengertian Pijat Perenium
Perineum adalah area kulit antara liang vagina dengan anus (dubur) yang dapat robek ketika melahirkan atau secara sengaja digunting guna melebarkan jalan keluar bayi (episiotomi). Pijat perineum adalah teknik memijat perineum di kala hamil atau beberapa minggu sebelum melahirkan guna meningkatkan aliran darah ke daerah ini dan meningkatkan elastisitas perineum. Peningkatan elastisitas perineum akan mencegah kejadian robekan perineum maupun episiotomi.
Penelitian yang diterbitkan di American Journal Obstretician and Gynecology menyimpulkan bahwa pijat perineum selama masa kehamilan dapat melindungi fungsi perineum paling tidak dalam 3 bulan pasca melahirkan. The Cochrane Review merekomendasikan bahwa pijat perineum ini harus selalu dijelaskan pada ibu hamil agar mereka mengetahui keuntungan dari pijat perineum ini. Pijat perineum ini sangat aman dan tidak berbahaya.
Pijat perineum sebaiknya tidak dilakukan bagi ibu hamil dengan infeksi herpes aktif di daerah vagina, infeksi jamur, atau infeksi menular yang dapat menyebar dengan kontak langsung dan memperparah penyebaran infeksi.
Tips Pijat Perineum
Jangan lakukan pijat perineum bila Anda mengalami infeksi vagina, vaginistis, infeksi saluran kemih, atau herpes genital.
Persiapan Sebelum Melakukan Pijat Perenium
Minyak yang hangat seperti minyak gandum yang kaya vitamin E, virgin coconut oil (VCO), atau pelumas dengan larutan dasar air, misalnya jelly K-Y. Jangan menggunakan baby oil, minyak larutan mineral, jelly petroleum, hand lotion, dan minyak yang beraroma. Jam atau penunjuk waktu untuk menghitung lamanya pemijatan. Beberapa buah bantal untuk pengganjal tubuh Anda.
Cukup mudah. Sebelum mulai memijat perineum, sebaiknya potong pendek kuku jari-jari tangan Anda, lalu cuci kedua tangan dengan sabun hingga bersih. Duduklah di tempat yang nyaman dengan posisi kedua kaki diregangkan, salah satu kaki diangkat dan diganjal dengan bantal. Atau, Anda dapat pula memilih posisi seperti hendak melahirkan, yaitu kedua kaki diregangkan, ganjal kepala, punggung, leher dan kedua kaki dengan bantal.
Setelah itu, barulah mulai memijat, dengan urutan berikut.
Oleskan minyak pada daerah perineum.
Tarik napas panjang dan berusahalah santai, jangan tegang.
Masukkan ibu jari satu atau kedua tangan Anda dengan posisi ditekuk ke dalam perineum, sementara jari-jari lainnya tetap berada di luar vagina. Apabila suami Anda yang melakukan pijat perineum ini, gunakan jari telunjuk.
Pijat perineum dengan tekanan yang sama, dengan arah dari atas ke bawah (menuju anus), lalu ke samping kiri dan kanan secara bersamaan. Jangan memijat terlalu keras karena mengakibatkan pembengkakan pada jaringan perineum. Awalnya, Anda akan merasakan otot-otot perineum dalam keadaan masih kencang. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin sering Anda melakukan pemijatan, otot-otot perineum akan mulai lentur (tidak kencang) dan mengendur.
Pijatlah hingga timbul rasa hangat (slight burning).
Lemaskan otot-otot dasar panggul Anda, lalu gerakkan ibu jari atau telunjuk yang berada di dalam vagina membentuk huruf U secara berirama. Lakukan pemijatan dengan sambil mendorong jari ke arah luar dan bawah (ke arah anus), selama 3 menit.
Kini, lakukan pemijatan ke arah luar perineum dengan gerakan seperti proses kepala bayi pada saat akan lahir. Hindari pemijatan ke arah uretra (lubang kencing) karena akan mengakibatkan iritasi.
Setelah pemijatan selesai Anda lakukan, kompres hangat jaringan perineum Anda selama kurang-lebih 10 menit. Lakukan secara perlahan dan hati-hati. Kompres hangat ini akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga otot-otot di daerah perineum kendur (tidak berkontraksi atau tegang).
Waktu pemijatan. Pemijatan perineum sebaiknya sudah mulai dilakukan sejak enam minggu sebelum hari-H persalinan. Lakukanlah pemijatan sebanyak 5-6 kali dalam seminggu secara rutin. Selanjutnya, selama 2 minggu menjelang persalinan, pemijatan dilakukan setiap hari, dengan jadwal sebagai berikut:
Minggu pertama, lakukan selama 3 menit.
Minggu kedua, lakukan selama 5 menit.
Hentikan pemijatan ketika kantung ketuban mulai pecah dan cairan ketuban mulai keluar. Atau, pada saat proses persalinan sudah dimulai. Jangan lakukan pijat perineum bila Anda mengalami infeksi vagina, vaginistis, infeksi saluran kemih, atau herpes genital.
Pijat perineum lebih penting dari sekadar memijat punggung yang tiap hari pegal saat hamil, karena membantu Anda bebas "robekan" saat melahirkan.
Perineum atau kerampang adalah daerah antara vagina dan anus. Daerah ini merupakan jaringan yang “kaya” akan ujung sel-sel saraf sehingga sangat peka terhadap sentuhan, dan cenderung mengalami perobekan saat berlangsungnya proses persalinan alami. Ketika mengalami perobekan itu, baik yang alami maupun disengaja –episiotomi-, disinyalir bisa mengakibatkan gangguan fungsi dasar otot panggul, sehingga menurunkan kualitas hidup ibu setelah melahirkan. Misalnya, ibu jadi tidak mampu mengontrol BAK dan BAB lantaran ada beberapa saraf atau bahkan otot yang “tergunting”. Mencegah risiko seperti itu, maka diupayakan dengan cara pemijatan perineum.
Pijat perineum mulai populer sejak tahun 1999. Tepatnya, sejak muncul sebuah artikel di American Journal of Obtetrics and Gynaecology tulisan dr. Labrecque M, seorang dokter kandungan di Watford General Hospital, Inggris, yang menganjurkan persalinan alami pada mereka yang tidak mengalami masalah selama masa kehamilannya. Ia melakukan riset tentang efektivitas dan manfaat pijat perineum dalam mencegah terjadinya perobekan serta mengurangi episiotomi pada proses persalinan alami.
Kesimpulan Labrecque didukung riset serupa oleh dr. Richard Johanson, MRCOG, dokter kandungan dari North Staffordshire Maternity Hospital, Inggris. Ia mencatat, ibu-ibu yang rajin melakukan pijat perineum sejak 3 bulan sebelum hari-H persalinan, terbukti hampir tidak ada yang memerlukan tindakan episiotomi. Kalaupun terjadi perobekan perineum secara alami, maka luka pulih dengan cepat.
Manfaat pijat Perineum:
Membantu otot-otot perineum dan vagina jadi elastis sehingga memperkecil risiko perobekan dan episiotomi.
Melancarkan aliran darah di daerah perineum dan vagina, serta aliran hormon yang membantu melemaskan otot-otot dasar panggul sehingga proses persalinan jadi lebih mudah
Mempercepat pemulihan jaringan dan otot-otot di sekitar jalan lahir setelah bersalin.
Membantu ibu mengontrol diri saat mengejan, karena “jalan keluar” untuk bayi sudah disiapkan dengan baik.
Meningkatkan kedekatan hubungan dengan pasangan, bila Anda melibatkan dia untuk melakukan pijat perineum ini.
Pijat Perineum (kulit di antara anus dan vagina) yang dilakukan 2-3 minggu sebelum hari H persalinan, dapat mengurangi panjang perobekan episiotomi hingga 6,1%.
Melahirkan merupakan saat yang paling ditunggu sekaligus merupakan saat yang paling menegangkan. Dari sekian banyak hal yang mengganggu pikiran ibu hamil saat mendekati waktu melahirkan adalah terjadinya robekan pada jalan lahir (vagina). Sebagian besar robekan terjadi secara alamiah akibat keluarnya kepala dan badan bayi. Sebagian lagi melalui tindakan episiotomi, yaitu pengguntingan jalan lahir dengan tujuan memperbesar jalan lahir untuk membantu proses persalinan atau mencegah terjadi robekan yang lebih berat. Tetapi, saat ini ada hal yang bisa bunda lakukan untuk memperkecil kemungkinan terjadi robekan jalan lahir saat melahirkan sehingga penjahitan akan lebih sedikit dan nyeri akan lebih minimal. Cara itu adalah dengan melakukan pijat perineum (perineal massage).
Dari penelitian didapatkan bahwa melakukan pijat perineum secara rutin yang dimulai sejak usia kehamilan 34 minggu dapat mengurangi kemungkinan terjadinya robekan pada jalan lahir. Hal ini terutama menguntungkan untuk wanita yang baru pertama kali melahirkan. Pijat perineum juga dapat membantu mempercepat pemulihan pasca melahirkan, khususnya pada anak kedua atau lebih.
Perenium dan Otot Dasar Pinggul
- Perineum-dan-otot-dasar-panggul-bundanetPerineum adalah area diantara liang vagina dan lubang anus. Jaringan perineum ini berhubungan dengan otot dari dasar panggul. Otot dasar panggul adalah kumpulan otot yang menyokong dan menahan seluruh organ yang berada di dalam panggul, misalnya kandung kemih dan usus.
- Perineum sangat penting bagi wanita. Regangan atau robekan perineum saat proses melahirkan dapat berpengaruh pada otot dasar panggul sehingga mudah terjadi rahim turun. Kelemahan otot dasar panggul juga bisa berpengaruh pada kontrol saat berkemih dan buang air besar. Kerusakan pada perineum juga bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan nyeri saat hubungan seksual. Kira-kira 85% wanita akan mengalami robekan pada perineum saat proses melahirkan.
Manfaat Pijat Perineum :
- Meningkatkan elastisitas (kemampuan untuk meregang) dari perineum. Meningkatkan aliran darah ke perineum sehingga perineum lebih mudah meregang dan mengurangi nyeri selama proses melahirkan.
- Kemungkinan terjadinya robekan pada perineum lebih kecil dan lebih jarang dibutuhkan episiotomi.
- Akan membantu ibu hamil terbiasa pada kondisi di mana perineum membuka dan meregang saat melahirkan.
- Mengurangi nyeri pada perineum pasca melahirkan.
- Secara khusus, hal ini akan sangat membantu jika terdapat jaringan parut pada perineum akibat luka sebelumnya atau perineum yang kaku, di mana dapat terjadi pada beberapa penunggang kuda atau penari. Tetapi semua wanita akan mendapatkan keuntungan dengan melakukan pijat perineum.
Pijat perenium dapat dimulai pada usia kehamilan 34 minggu. Pijat perineum bisa ibu hamil lakukan sendiri atau dilakukan oleh suami, jika anda merasa nyaman dengan ini.
Waktu yang tepat untuk melakukan pijat perineum adalah saat mandi atau setelah mandi karena saat itu pembuluh darah pada daerah tersebut sedang melebar. Hal ini membuat perineum lebih lembut dan lebih nyaman saat disentuh. Saat itu bunda juga akan lebih rileks.
Cara Melakukan Pijat Perenium
Sebaiknya menggunakan sedikit minyak organik yang tidak beraroma, misalnya minyak zaitun (olive oil), minyak biji bunga matahari atau minyak biji anggur untuk melicinkan daerah perineum dan membuat pijatan lebih nyaman. Bunda juga bisa menggunakan pelumas berbahan dasar air, seperti K-Y Jelly. Jangan menggunakan minyak sintetis seperti baby oil atau petroleum jelly (Vaseline). Pastikan tangan dalam kondisi bersih sebelum mulai memijat.
Posisi yang nyaman untuk pijat perineum:
- Ganjal bokong dengan bantal di tempat tidur atau di sofa dengan lutut ditekuk.
- Bersandar di dalam bak mandi dengan satu kaki diangkat ke sisi bak mandi. Kemudian ganti kaki yang lain.
- Bendiri sambil mandi air hangat dengan satu kaki di atas bangku. Kemudian ganti kaki yang lain.
- Sambil duduk di toilet.
Cara pijat perineum
- Cucilah tangan terlebih dahulu untuk mencegah berpindahnya kuman dari tangan ke perineum Bunda.
- Pastikan kuku jari tangan tidak panjang, karena jaringan di vagina dan perineum halus sehingga dengan memotong kuku akan mencegah robeknya jaringan tersebut.
- Cari tempat yang nyaman dan santai di mana bunda akan merasa aman dan tidak terganggu.
- Pada saat-saat awal mencoba, mungkin akan lebih mudah untuk menggunakan cermin untuk membantu melihat apakah cara yang dilakukan sudah sesuai atau belum.
- Letakkan satu atau dua ibu jari (atau jari lainnya bila ibu jari tidak sampai) sekitar 2-3 cm di dalam vagina. Tekan ke bawah dan kemudian menyamping pada saat yang bersamaan.
- Perlahan-lahan coba pijat dan regangkan daerah dalam vagina dan bukan kulit perineum. Tetapi, bunda tetap akan merasakan sensasi regangan pada kulit perineum.
- Pijat perineum seharusnya cukup nyaman tetapi bunda bisa merasakan regangan. Hal ini mirip saat perineum terbuka ketika proses melahirkan.
- Berusaha untuk melemaskan otot perineum semaksimal mungkin selama proses pemijatan.
- Pemijatan bisa dilakukan selama yang bunda inginkan, tetapi minimal lakukan selama 5 menit.
- Sejalan dengan waktu, jika perineum menjadi lebih elastis, bunda dapat meningkatkan kemampuan untuk rileks dan meningkatkan tekanan ke arah anus saat pemijatan. Kemampuan untuk tetap rileks saat merasakan peningkatan tekanan akan membantu bunda untuk rileks saat kepala bayi menekan daerah tersebut saat proses melahirkan.
- Ulangi sesering yang bunda inginkan. Untuk hasil yang terbaik, lakukan pijatan setiap hari atau selang sehari.
- Pijat perineum atau perineal massage ini juga dapat dilakukan berdua dengan pasangan, bunda juga dapat menghubungi seorang profesional medis untuk melatih melakukan pijat perineum jika bunda tidak percaya diri apabila melakukannya sendiri dirumah.
- Berbaringlah dalam posisi rileks dan santai. Pijat dilakukan dengan cara yang sama, hanya saja pasangan harus menggunakan jari telunjuk bukan jempol untuk melakukan pijat. Buat gerakan berbentuk “U”, lakukan pemijatan dari sisi ke sisi dengan menggunakan sedikit tekanan.
- Bunda mungkin mengalami perasaan canggung. Namun ini adalah hal yang alami. Cobalah untuk mengingat bahwa pijat perineum memiliki tujuan yang sama seperti jenis pijat lain: yaitu untuk melepaskan ketegangan, dan dalam kasus melahirkan adalah untuk memudahkan bagian kepala janin dan mengurangi ketidaknyamanan.
- Berkomunikasilah dengan pasangan. Biarkan pasangan tahu apakah bunda mengalami rasa tidak nyaman. Pijat harus dilakukan dengan lembut karena jaringan perineum sangatlah halus. Pemijatan secara teratur pada daerah perineum dalam minggu-minggu menjelang persalinan akan meningkatkan elastisitas dan mengurangi beberapa tekanan ketika kepala janin melakukan penurunan untuk lahir. Jika merasa tidak nyaman apabila pijat perineum ini dilakukan oleh orang lain, bunda dapat melakukan pijat perineum sendiri, tetapi kebanyakan wanita merasa agak kesulitan untuk melakukan sendiri selama kehamilan lanjut karena membesarnya perut.
DAFTAR PUSTAKA
Aprilia, Yesie. (2010). Hipnostetri : Rileks, Nyaman dan Aman Saat Hamil dan Melahirkan. Jakarta: Gagas Media
Badriah, Dewi Laelatul. (2012). Metodologi Penelitian Ilmu-ilmu Kesehatan. Bandung: Multazam
Beckmann, M.M and Andrea J. (2013) Antenatal Perineal massage for reducing Perineal Trauma. Cochrane Database of Systematic Reviews
Data Dinas Kesehatan Jawa Barat (2013) Kabupaten Indramayu
Departemen Kesehatan RI. (2011). Pelatihan Asuhan Persalinan Normal.Jakarta: JNPK-KR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar